pie kbre bro.... apik to.... #masya Allah :)
ada pintu surga di rumahmu
hehe... ada pintu surga dirumahmu.... ???? opo ya.. kenapa jauh" mencari jika dirumah kita terdapat pintu" surga.....Fitrah manusia pasti klo ditanya,, " mas pean pengen ning surgo po neroko????? weee,,, surga lah "ya secara fitrah pasti surga adalah tujuan kita,,,, di surga ada beberapa pintu yang akan dilalui setiap insan sesuai dengan amal di dunianya
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Zumar ayat 73:
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
“Dan
orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dibawa ke dalam Surga
secara berombonggan. Sehingga apabila mereka sampai ke Surga
dibukakanlah pintu-pintu itu dan dikatakanlah kepada mereka
penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan atas kalian. Berbahagialah kalian!
maka masukilah Surga ini, sedang kalian kekal di dalamnya.” (QS. Al-Zumar [39]: 73)
هُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا
إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ
حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ »
Muslim meriwayatkan dari Ubadah ibn Shamit radhiallahu anhu bahwa dia berkata: Rasulallah shallallahu alaihi wasallam
bersabda, “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak
diibadahi selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa
Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Serta Isa adalah hamba Allah, anak
salah satu hamba-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan
ruhnya berasal dari Allah. (Ia juga bersaksi) bahwa Surga adalah benar
adanya, Neraka juga benar adanya; niscaya Allah akan memasukkannya ke
surga dari delapan pintunya manapun yang ia kehendaki.” (HR. Bukhari No.3435 dan Muslim No.140)
قَالَ «مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ فِى
الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ. فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ». قَالَ أَبُو بَكْرٍ
الصِّدِّيقُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى أَحَدٍ يُدْعَى مِنْ تِلْكَ
الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ
كُلِّهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَعَمْ وَأَرْجُو
أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Barang siapa yang menginfakkan dua pasang hartanya di jalan
Allah maka dia akan dipanggil di surga, ‘Wahai hamba Allah, ini adalah
yang baik.’ Barang siapa yang tergolong ahli shalat maka dia akan
dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang tergolong ahli jihad maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang tergolong ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu al-Royyan. Barang siapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah.” Abu Bakar radhiallahu anhu
berkata, “Bahaya apalagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang
dipanggil dari pintu-pintu tersebut. Apakah ada orang yang dipanggil
dari semua pintu tersebut?” Maka Nabi menjawab, “Iya ada. Dan aku
berharap kamu termasuk di dalamnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
dari ringkasan diatas Rabbul'alamin menunjukan bebarapa pintu surga,,, lantas apakah hubungan dengan judul diatas...
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
الوالد أوسط أبواب الجنة
“(Berbakti kepada) Orang Tua adalah sebaik-baik pintu syurga“
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Lihat Ash-Shahihah (914))
hehe/////// ^^ ... ada kisah sahabat nabi yang dapat kita contoh dalam hal berbakti pada orangtua bilwalidain /// lo gak alah ^^
Kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni ini patut diambil faedah dan pelajaran.
Terutama ia punya amalan mulia bakti pada orang tua sehingga banyak
orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi yang
menyuruh orang-orang meminta doa ampunan darinya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah disampaikan oleh beliau jauh-jauh hari.
عَنْ
أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَا أَتَى
عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ
عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ
قَالَ نَعَمْ . قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ نَعَمْ.
قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْDari Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”
Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”
Uwais menjawab, “Iya.”
قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى
عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ
مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ
مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى
اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ
». فَاسْتَغْفِرْ لِى. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ
تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ. قَالَ أَلاَ أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا
قَالَ أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ
Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti
akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan
pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia
memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu
dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia
mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika
engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah
padanya.”Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.
Umar pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.
Umar pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah supaya membantumu?”
Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”
قَالَ
فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ حَجَّ رَجُلٌ مِنْ
أَشْرَافِهِمْ فَوَافَقَ عُمَرَ فَسَأَلَهُ عَنْ أُوَيْسٍ قَالَ تَرَكْتُهُ
رَثَّ الْبَيْتِ قَلِيلَ الْمَتَاعِ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ
أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ
بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ
بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ
أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ».
Tahun berikutnya, ada seseorang dari kalangan terhormat dari mereka
pergi berhaji dan ia bertemu ‘Umar. Umar pun bertanya tentang Uwais.
Orang yang terhormat tersebut menjawab, “Aku tinggalkan Uwais dalam
keadaan rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.” Umar pun
mengatakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nanti
akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan
pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia
memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu
dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia
mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika
engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah
padanya.”
فَأَتَى
أُوَيْسًا فَقَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ أَنْتَ أَحْدَثُ عَهْدًا
بِسَفَرٍ صَالِحٍ فَاسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ لَقِيتَ
عُمَرَ قَالَ نَعَمْ. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ
Orang yang terhormat itu pun mendatangi Uwais, ia pun meminta pada Uwais, “Mintalah ampunan pada Allah untukku.”Uwais menjawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada Allah untukku.”
Orang itu mengatakan pada Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu ‘Umar.”
Uwais menjawab, “Iya benar.” Uwais pun memintakan ampunan pada Allah untuknya.
فَفَطِنَ لَهُ النَّاسُ فَانْطَلَقَ عَلَى وَجْهِهِ
“Orang lain pun tahu akan keistimewaan Uwais. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.” (HR. Muslim no. 2542)Faedah dari kisah Uwais Al Qarni di atas:
1- Kisah Uwais menunjukkan mu’jizat yang benar-benar nampak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia adalah Uwais bin ‘Amir. Dia berasal dari Qabilah Murad, lalu dari Qarn. Qarn sendiri adalah bagian dari Murad.2- Kita dapat ambil pelajaran –kata Imam Nawawi- bahwa Uwais adalah orang yang menyembunyikan keadaan dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Tidak ada sesuatu yang nampak pada orang-orang tentang dia. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia.
Maksud di atas ditunjukkan dalam riwayat lain,
أَنَّ أَهْلَ الْكُوفَةِ وَفَدُوا إِلَى عُمَرَ وَفِيهِمْ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَسْخَرُ بِأُوَيْسٍ
“Penduduk Kufah ada yang menemui ‘Umar. Ketika itu ada seseorang yang meremehkan atau merendahkan Uwais.”Dari sini berarti kemuliaan Uwais banyak tidak diketahui oleh orang lain sehingga mereka sering merendahkannya.
3- Keistimewaan atau manaqib dari Uwais nampak dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Umar untuk meminta do’a dari Uwais, supaya ia berdo’a pada Allah untuk memberikan ampunan padanya.
4- Dianjurkan untuk meminta do’a dan do’a ampunan lewat perantaraan orang shalih.
5- Boleh orang yang lebih mulia kedudukannya meminta doa pada orang yang kedudukannya lebih rendah darinya. Di sini, Umar adalah seorang sahabat tentu lebih mulia, diperintahkan untuk meminta do’a pada Uwais –seorang tabi’in- yang kedudukannya lebih rendah.
6- Uwais adalah tabi’in yang paling utama berdasarkan nash dalam riwayat lainnya, dari ‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ
“Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang
bernama . Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit
(tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun
untuk kalian.” (HR. Muslim no. 2542). Ini secara tegas menunjukkan bahwa Uwais adalah tabi’in yang terbaik.Ada juga yang menyatakan seperti Imam Ahmad dan ulama lainnya bahwa yang terbaik dari kalangan tabi’in adalah Sa’id bin Al Musayyib. Yang dimaksud adalah baik dalam hal keunggulannya dalam ilmu syari’at seperti keunggulannya dalam tafsir, hadits, fikih, dan bukan maksudnya terbaik di sisi Allah seperti pada Uwais. Penyebutan ini pun termasuk mukjizat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
7- Menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama. Lihatlah Uwais, ia sampai mengatakan pada ‘Umar,
أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ
“Aku menjadi orang-orang lemah, itu lebih aku sukai.” Maksud
perkataan ini adalah Uwais lebih senang menjadi orang-orang lemah,
menjadi fakir miskian, keadaan yang tidak tenar itu lebih ia sukai. Jadi
Uwais lebih suka hidup biasa-biasa saja (tidak tenar) dan ia berusaha
untuk menyembunyikan keadaan dirinya. Demikian dijelaskan oleh Imam
Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.8- Hadits ini juga menunjukkan keutamaan birrul walidain, yaitu berbakti pada orang tua terutama ibu. Berbakti pada orang tua termasuk bentuk qurobat (ibadah) yang utama.
9- Keadaan Uwais yang lebih senang tidak tenar menunjukkan akan keutamaan hidup terasing dari orang-orang.
10- Pelajaran sifat tawadhu’ yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab.
11- Doa orang selepas bepergian dari safar yang baik seperti haji adalah doa yang mustajab. Sekaligus menunjukkan keutamaan safar yang shalih (safar ibadah).
12- Penilaian manusia biasa dari kehidupan dunia yang nampak. Sehingga mudah merendahkan orang lain. Sedangkan penilaian Allah adalah dari keadaan iman dan takwa dalam hati.
Semoga bermanfaat.
hehe.... afwan di copas semua.... ^^
permisi dlu ,,, cukup sekian... semoga bermanfaat walaupun cuma sedikit sekali.. lawong copas semua... ^^
#4
#smgttttt
#selamatmenempuhidupbarubahagiaselalu
#jazakillahkhoir
#keepsmile
permisi dlu ,,, cukup sekian... semoga bermanfaat walaupun cuma sedikit sekali.. lawong copas semua... ^^
#4
#smgttttt
#selamatmenempuhidupbarubahagiaselalu
#jazakillahkhoir
#keepsmile
Tidak ada komentar:
Posting Komentar